,,,,, Selamat Datang di Blog Nur Khoiri Online ,,,,, blog berbasis knowledge, research and religius ,,,,,,

Jumat, 30 Maret 2012

PENELITIAN EVALUASI PROGRAM

Oleh: Nur Khoiri
Definisi Evaluasi
• Menurut Ralph Tyler, evaluasi ialah proses yang menentukan sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai (Tyler, 1950:69).
• Menyediakan informasi untuk pembuat keputusan, dikemukakan oleh Cronbach (1963), Stufflebeam (1971), dan Alkin (1969).
• Maclcolm, Provus, pencetus Discrepancy Evaluation (1971), mendefinisikan evaluasi sebagai perbedaan apa yang ada dengan suatu standar untuk mengetahui apakah ada selisih.

Langkah-Langkah dan prosedur yang dilakukan dalam Evaluasi:
1) Memfokuskan evaluasi
2) Mendesain evaluasi
3) Mengumpulkan informasi
4) Menganalisis informasi
5) Melaporkan hasil evaluasi
6) Mengelola evaluasi
7) Mengevaluasi evaluasi

Standard untuk menilai evaluasi
Standard yang paling komprehensif dan rinci dikembangkan oleh Committee on Standard for Educational Evaluation (Joint Committee, 1981), yaitu:
a) Utility (bermanfaat dan praktis)
b) Accuracy (secara teknik tepat)
c) Feasibility (realistik dan teliti)
d) Propriety (dilakukan dengan legal dan etik)

Deskriptisasi Penelitian Evaluasi
Budiyanto mendaftarkan putranya ke sebuah program yang dilansir oleh SMU dekat tempat tinggalnya. Sekolah tersebut menyatakan memiliki visi yang berbeda dari sekolah lain. Ada beberapa hal yang dianggap sebagai pengejawantahan ‘visi’ tersebut yakni heterogenitas status social, kurikulum yang berbasis pada gagasan dan ide yang multicultural, dan sistem monitoring yang ketat; sekolah menjamin kelangsungan program-programnya dan mengawasi setiap murid dengan seksama. Budiyanto sangat yakin bahwa program-program seperti inilah yang akan membuat anaknya terbimbing dengan benar. Sekarang sudah bulan Oktober dan Budiyanto ingin mengetahui dampak model pendidikan seperti ini pada perkembangan anaknya. Budiyanto meminta sang kepala sekolah untuk menjelaskan seluruhnya.
Satu hal yang paling khas dari evaluasi program adalah inherensi politis (Patton, 1987),” … pengakuan bahwa politik dan ilmu pengetahuan merupakan satu kesatuan di dalam setiap tindak evaluasi’ (Cronbach dan kawan-kawan, 1980; 3). Evaluasi diterapkan pada program-program social –terutama program-program sosial yang berhubungan dengan wilayah publik.”

Metodologi Evaluasi
Terdapat empat genre metodologi evaluasi, yaitu: pertama, yang mereprentasikan tradisi evaluasi program yang secara historis dominan, terorientasikan pada isu kebijakan makro terkait efektifitas dan efisiensi biaya. Genre Kedua, muncul sebagai tanggapan terhadap kegagalan ilmu eksperimental menyediakan berbagai macam informasi untuk aktifitas pengambilan kebijakan. Metodologi ini dicirikan oleh kecenderungannya pada pengambilan kebijakan dan pada konsep manajerial, kecenderungannya pada produksi informasi yang bermanfaat, dasar praktis dan pragmatisnya, dan prinsip metodologisnya yang elektis. ketiga, pendekatan kualitatif tradisional. Pendekatan ini berbasis pada filsafat ilmu interpretative (Smith, 1989; Soltis, 1990), orientasi pada nilai yang mengedepankan pluralism melalui konteks evaluasi, dan kecenderungan metodologis studi kasus yang berpijak pada metode-metode kualitatif. Keempat, genre ilmu sosial normative. Teoritis Feminis, neo-marxis, kritis, dan teoretisi-teoretisi lain tergabung ke dalam genre ini. Genre ini mengedepankan bentuk penelitian yang terbuka secara ideologis; tujuannya adalah mengungkapkan basis historis, structural, dan nilai dari setiap fenomena sosial.
Paradigma dan Praktik
Patton (1990) mengusulkan sebuah kerangka pendekatan evaluasi kualitatif dalam bentuk ‘tema strategis’ yang -tanpa mempertimbangkan persoalan filosofis- mengedepankan validitas dan reliabilitas secara konvensional untuk mempertimbangkan dimensi kualitatif dari data-data kualitatif (hlm. 461). Pendapat ini logis, karena Patton (1988, 1990) yakin bahwa paradigm penelitian cenderung akan mengurung dan membatasi pilihan metodologis.

Model-Model Evaluasi
1. Model Evaluasi CIPP
Stufflebeam merumuskan evaluasi sebagai suatu proses menggambarkan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan (Stufflebeam, 1973:127). Ia membagi evaluasi menjadi empat macam, yaitu:
a) Contect evaluation to serve planning decision. Konteks evaluasi ini membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program, dan merumuskan tujuan program.
b) Input evaluation, structuring decision. Evaluasi ini menolong mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan.
c) Process evaluation, to serve implementing decision. Evaluasi proses untuk membantu mengimplementasikan keputusan.
d) Product evaluation, to serve recycling decision. Evaluasi produk untuk menolong keputusan selanjutnya.
2. Model Evaluasi UCLA
Alkin (1969) mengemukakan lima macam evaluasi, yaitu:
a) Sistem essessment, yang memberikan informasi tentang keadaan atau posisi sistem.
b) Program planning, membantu pemilihan program tertentu yang mungkin akan berhasil memenuhi kebutuhan program.
c) Program implementation, yang menyiapkan informasi apakah program sudah diperkenalkan kepada kelompok tertentu yang tepat seperti yang direncanakan.
d) Program improvement, yang memberikan informasi tentang bagaimana program berfungsi.
e) Program certification, yang memberi informasi tentang nilai atau guna program.
3. Model Brinkerhoff
Brinkerhoff & Cs. (1983) mengemukakan tiga golongan evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, seperti evaluator-evaluator lain.
4. Model Stake atau Model Countenance
Stake (1967), analisis proses evaluasi yang dikemukakannya membawa dampak yang cukup besar dalam bidang ini dan meletakkan dasar yang sederhana namun merupakan konsep yang cukup kuat untuk perkembangan yang lebih jauh dalam bidang evaluasi.

Beberapa Pendekatan dalam Evaluasi
(Stecher, Brian M & W. Alan Davis, 1987)
1. Pendekatan Experimental
2. Pendekatan yang berorientasi pada tujuan (Goal Oriented Approach)
3. Pendekatan yang berfokus kepada Keputusan (The Decision Focused Approach)
4. Pendekatan yang berorientasi kepada pemakai (The User Oriented Approach)
5. Pendekatan yang Responsif (The Renponsive Approach)
6. Goal Free Evaluation

Konsep dalam Evaluasi
1. Evaluasi Formatif dan Sumatif
2. Evaluasi Internal dan Evaluasi Eksternal

Desain Evaluasi Program
Desain evaluasi program (Carol Tayler Fitz Gibbon & Lynn Lyons Morris, 1987), suatu desain ialah rencana yang menunjukkan bila evaluasi akan dilakukan dan dari siapa evaluasi atau informasi akan dikumpulkan selama proses evaluasi. Alas an utama memakai desai yaitu untuk meyakinkan bahwa evaluasi akan dilakukan menurut organisasi yang teratur dan menurut aturan evaluasi yang baik. Semua orang yang terlibat dalam evaluasi adalah orang yang tepat, dilakukan pada waktu yang tepat, dan di tempat yag tepat seperti yang telah direncanakan. Pada dasarnya suatu desain ialah bagaimana mengumpulkan informasi yang komparatif sehingga hasil program yang dievaluasi dapat dipakai untuk menilai manfaat dan besarnya program apakah akan diperlukan atau tidak. Pekerjaan evaluator berkisar antara mengambil salah satu atau keduanya, tergantung dari tugas yang diberikan. (DR. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd, 2000: 64)
1) Bila seorang evaluator diminta membuat laporan singkat tentang kefektifan suatu program. Dalam hal ini mungkin evaluasi akan memberi laporan misalnya kepada pemberi dana, pemerintah, organisasi, atau institute yang memintanya untuk mengevaluasi tentang program tertentu. Evaluator mungkin akan menjelaskan program yang bersangkutan, informasi yang menerangkan tentang keberhasilan program mencapai tujuan yang telah ditentukan, mencatat dampak yang tak diperkirakan, dan mungkin membuat perbandingan-perbandingan dengan program lainnya. Apabila ini yang akan dilakukan, maka evaluator adalah evaluator sumatif, ia melakukan evaluasi sumatif.
2) Tugas evaluator mungkin sebagai penolong dan penasehat terhadap perencana program dan pengembang atau mungkin sebagai perencana itu sendiri, evaluator akan diminta untuk melihat masalah yang potensial, hal-hal yang perlu diperbaiki, memonitor kegiatan program dan secara teratur melakukan tes untuk mengetahui kemajuan siswa atau karyawan, utnuk mengetahui perubahan perilaku, dan sebagainya. Dalam situasi ini evaluator adalah orang yang tugasnya tak dapat dirumuskan dengan jelas batasannya. Evaluator mungkin diminta atau mungkin tidak membuat laporan pada akhir kegiatannya. Maka evaluator ini adalah evaluator formatif atau ia melakukan evaluasi formatif.
1. Desain dalam Evaluasi Sumatif
2. Desain dalam Evaluasi Formatif

Masalah-masalah Umum dalam Implementasi
1. Masalah perbedaan waktu yang digunakan
2. Masalah attrition
3. Masalah confound
4. Masalah kontaminasi

Melakukan Evaluasi
1. Mengumpulkan Informasi
Kriteria mengumpulkan informasi:

Terpercaya, informasi yang dapat dipercaya oleh klien, yaitu informasi yang akurat, diberikan oleh orang atau sumber yang juga terpercaya dan benar. Karena hanya informasi yang dipercaya klien yang akan dipakai.
Praktis, informasi yang praktis yaitu yang informasi yang diperoleh dengan wajar, tidak mahal, dan tidak sulit.
Prioritas, dihubungkan dengan dana dan waktu.
Akurasi, informasi yang akurat, yaitu informasi yang relefan dan terpercaya, dan tak banyak kesalahan, terutama tentang metode dan proses pengumpulan data dan analisisnya.
2. Metode mengumpulkan informasi
Ada dua macam metode sampling yaitu random (acak) dan purposive (disebut juga objektif dan subjektif).
Metode random dipakai untuk membuat sampel dengan tingkat keacakan tertentu, bebas dari bias. Dapat memakai perhitungan statistic untuk menggeneralisasi penemuannya pada tingkat kebenaran tertentu.
Metode purposive dipakai untuk membuat sampel yang akan diwakili sudut pandangan tertentu atas penilaian mereka yang memilih sampel.
3. Instrument pengumpulan data
Beberapa instrument yang biasa dipakai dalam prosedur pengumpulan informasi, yaitu:
a) Surveys
b) Interviews
c) Observations
d) Tests
e) Inventories
f) Site visits, expert reviews, panel hearings

Praktik Evaluasi Kualitatif
Ada beberapa hal penting terkait praktik evaluasi kualitatif. Sebagian besar evaluator kualitatif, (a) meletakkan penelitian mereka kedalam kerangka studi kasus dan dengan demikian, difokuskan pada persoalan konteks dan bukan generabilitas, dan menganggap konteks tersebut sebagai satu elemen makna yang esensial; (b) mengonstruksi makna melalui metode kualitatif, namun tidak secara eksklusif; (c) mengakui (jika tidak bisa dikatakan ‘merayakan’) kehadiran dan pengaruh ‘self mereka pada proses penelitian; dan (d) meniatkan hasil penelitian mereka pada pengembangan pemahaman program praktis.
Kerangka Filosofis Kerangka ideologis/Nilai yang dijanjikan Audiens Metode yang dipakai Masalah-masalah Evaluasi
Post-Positivisme Teori system/efisiensi, akuntabilitas, pengetahuan kausal teoretis. Para penyusun kebijakan tingkat tinggi dan para pengambil keputusan Eksperimen kuantitatif dan kuasi-eksperimen, analisis system, permodelan kausal, analisis biaya keuntungan. Elektis, campuran: survey terstruktur, kuesioner, wawancara, observasi. Adakah hasil yang diberikan oleh program tersebut? Apakah program tersebut merupakan pilihan terefisiensi?
Pragmatisme





Manajemen/praktik, kendali mutu, kegunaan.



Manajer program tingkat menengah, administrator, dan para eksekutif.


Bagian program manakah yang berhasil dan perlu ditingkatkan kinerjanya? Seberapa efektif program tersebut jika ditinjau dari tujuan yang hendak dicapai organisasi? Apakah program tersebut mampu memenuhi permintaan pihak yang berhak memperoleh manfaat? Bagaimana rupa program tersebut dimata para pengampu kekuasaan?
Interpretivisme/Tafsiriyah




Ilmu kritis dan ilmu normative Pluralism/memahami keragaman, solidaritas.


Emansipasi, pembagian kekuasaan, perubahan social. Setiap pemimpin program, setiap staf, dan setiap benefisiar.


Benefisiar, komunitas mereka, dan kelompok-kelompok ‘pinggiran’. Kualitatif; studi kasus, wawancara, observasi, mengulas dokumen.
Partisipatif: partisipasi setiap pengampu kekuasaan pada setiap rancangan dan metode kuantitatif dan kualitatif, baik yang berstruktur maupun tidak; analisis kesejarahan, kritik social. Bagaimana cara yang ditempuh premis, tujuan, atau aktivitas program tersebut ketika mempertahankan kekuasaan dan ketidaksetaraan ditengah-tengah masyarakat?

Tidak ada komentar:

News

Loading...